Rabu, 07 Januari 2009

No more war !!!

"bahkan kemenangan atas sebuah peperangan pun tak memberikan kebanggaan...
Sebab tak ada yang bisa diperoleh dalam perang. Ia hanya menyisakan air mata, kehancuran, dan kebencian..."

heal the world
make it better place !!!

Sabtu, 20 September 2008

KISAH MIMPI

telah jauhkah dirimu, cinta?
ku sendiri berjalan dalam kelam
berlalu sunyi dihembus mimpi
kau...
seakan sulit tanganku menjangkau
walau di hati ini
kau kupeluk erat

Kamis, 18 September 2008

KETIKA HATI SAKIT, BUKANKAH MATA IKUT MENANGIS ?

Setidaknya kita masih manusia yang jelas punya rasa. Sedangkan binatang saja masih rela berbagi dengan sesamanya...

Sedih ya, melihat berita di media massa akhir-akhir ini. Betapa ternyata kita makin miskin di semua sisi. Bukan saja materi, bahkan pengikisan itu telah merambah nurani.

Sepertinya kita tak perlu malu-malu lagi buat ngaku kalau kita miskin. Kalau toh, mau maksa bahwa negri ini kaya sumber daya, berhakkah kita semua mengklaimnya? Sebab nyatanya hanya segelintir orang saja yang bisa menikmati. Jadi jangan takjub kalau ada orang di negri ini yang dinobatkan sebagai bagian orang-orang terkaya di asia.

Betewe, kira-kira bagaimana ya, perasaan mereka? Sementara di sekelilingnya masih ada yang berebut dan rela menyabung nyawa demi 30 ribu rupiah. Masih ada yang terpaksa kreatif mendaur ulang makanan sampah demi mempertahankan asap dapur. Masih ada yang terpaksa menenangkan cacing-cacing perutnya dengan makanan yang sudah tak layak makan. Sebuah ironi ya?

Entah masih banggakah mereka dengan kekayaannya. Sementara ketika keluar rumah, mata selalu terpapar pemandangan yang menyesakkan hati. Tidakkah mata ingin menangis?

Jangan terlalu menyudutkan tetangga-tetangga kita yang kaya ding... Karena pencapaian mereka juga pasti melalui kerja keras. Hanya saja mungkin mereka jauh lebih beruntung bisa menikmatinya lebih cepat.

Bukan tak mungkin, mereka juga nangis di hati melihat sekelilingnya. Toh, mereka juga manusia. Punya rasa, punya hati (eitz.. Nyanyi to?) Tak sedikit pula yang suka nyumbang. Lihat ga, acara amalnya sering dipublikasikan? Wuuiih...! ^+^

Hanya saja, mungkin jumlah si miskin jauh lebih banyak hingga tak sebanding dengan jumlah penyumbang, jumlah sumbangan, dan frekuensi menyumbang. Atau ada baiknya memikirkan bagaimana mengubah agar mereka tak lagi menggantungkan diri pada sumbangan. Mengajarinya untuk bangun lalu menjadikannya partner berkompetisi. Tapi... lagi-lagi... semua tak semudah membalik telapak tangan. Apalagi saat ini kita telah terperosok teramat dalam...

Yeph! Moga saja kita belum mati rasa. Anggota badan lain masih bisa merasa, ketika hati sakit, mata ikut menangis, dan tangan rela menyeka air mata yang bergulir di pipi. Semoga...

Jumat, 05 September 2008

UANG BUKAN SEGALANYA, TAPI...

Ibu sakit. Satu-satunya orang tuaku setelah ayah dipanggil, saat ini harus bolak-balik ke rumah sakit karena pembekakan hati. Tak ada yg bisa aku dan kedua adikku lakukan kecuali mensuport ibu agar sabar dan tabah melalui cobaan ini. Karena sehat dan sakit datangnya dari Alloh, maka hanya kepadaNya manusia mohon jalan terbaik.


Saat ini mulai terlintas di kepalaku, andai aku punya banyak uang. Sebelumnya aku cukup mensyukuri apa yg kudapat sekarang. Maksudku, bukan aku tak bersyukur lagi atas rizki saat ini. Tapi, kalau saja aku bisa lebih banyak menyisihkan uang, pasti aku tak pusing lagi memikirkan bagaimana cara mengupayakan kesembuhan ibu.


Okelah, mungkin pernah juga terlintas di hatimu, perasaan ingin membantu saat kawanmu terpaksa 'puasa' karena kiriman belum datang. Atau saat kau lihat banyak anak terpaksa putus sekolah karena tak punya biaya buat melanjutkan. Atau saat kau lihat berapa puluh tunawisma tidur di emper toko dan kehujanan. Atau banyak pemandangan lagi yg menyayat nurani kemanusiaanmu.


Coba pikirkan kalau kamu punya cukup banyak uang. Berapa kawan yg bisa kau tolong melalui uangmu itu? Berapa banyak pemandangan pilu bisa kau ubah menjadi sebuah semangat baru?


Jadi, apakah dengan begitu kamu setuju denganku, bahwa uang bukan segalanya, tapi punya banyak uang juga perlu?

Rabu, 03 September 2008

INDAH... KERAGAMAN DALAM KEBERSAMAAN

Ramadhan...

Aku inget banget sebuah cerita yang dituturkan seorang keponakanku, tentang ramadhan di keluarganya. Demi menghormati dan menghargai anggota keluarga lain yg sedang berpuasa, ibunya, yg juga tanteku, hanya memasak untuk berbuka sekaligus sahur. Bahkan dia mengunci semua makanan dalam almari makan dan hanya boleh diambil atas ijinnya. Jadi, jika ada anggota keluarga lain yg tak berpuasa, harus rela ikut menahan haus dan lapar juga meski tak selama orang berpuasa.

Tyar, keponakanku yg sering bolong puasa itupun merasa tersiksa karena cuma bisa makan makanan kecil saja sepanjang hari. Ketika protes, ibunya ringan menjawab, "salah sendiri, bulan ramadhan ko nggak puasa..."
Dan Tyarpun cuma bisa menahan emosi.

Mungkin itu cuma sebagian kecil usaha untuk menunjukkan penghargaan pada orang-orang yg berpuasa. Ada banyak peristiwa lagi yg terekspose media, tentang bagaimana orang atau sekelompok ormas melakukan sweeping dengan dasar, untuk menghormati Ramadhan. Yeph! Benar atau salahkah itu? Tak jelas bagiku.

Aku sangat setuju bahwa Ramadhan harus menjadi bulan pencerah bagi hati dan jiwa yg lelah dan penuh debu. Bulan yg paling ditunggu untuk meraih ampunan Alloh. Tapi sudah cukup rasanya, mata dan telingaku menyaksikan berita-berita pilu sepanjang bulan-bulan sebelumnya. Rasa manusiaku telah ingin sekali melalui Ramadhan suci ini dengan kesejukan.Alangkah indahnya jika Ramadhan bisa dilewati dengan penuh kedamaian. Kalau selama ini aku, juga mungkin kamu, selalu diingatkan untuk menghormati dan menghargai orang-orang yg berpuasa, mungkin sudah waktunya pula orang menghargai mereka yg tidak berpuasa. Sebab aku, juga kamu, tak perlu jadi manja karena berpuasa. Cukuplah Alloh saja yg memanjakan dengan beribu rahmat dan ampunan sebagai imbalan untuk amal dan ibadah yg ikhlas dijalankan. Karena memang ibadah ini cuma Dia yg tahu. Orang bisa dengar dan lihat, aku, atau kamu, tak makan seharian. Tapi siapa yg tahu, aku, atau kamu, minum di belakang pintu?

Rasanya, tak perlu ngotot minta dihormati dan dihargai. Belum tentu yg menghargai itu tulus melakukannya. Biarkan semua mengalir seperti biasanya. Dengar saja burung yg berkicau setiap pagi. Mereka tak ngotot kan, ngicaunya? Tapi tetep kedengeran merdu. Justru itulah yg membuat pagi jadi selalu indah...

Minggu, 10 Agustus 2008

PARODI JALAN RAYA

Lepas. Bener-bener tertawa lepas. Alf, sulungku, sampai nanya, kenapa aku tertawa begitu rupa.

Siang yg panas dan kering tadi, seperti biasa aku jemput Alf dari sekolah. Berhenti sebentar di pinggir MT. Haryono, nunggu kesempatan buat nyebrang di jalan yg tak pernah sepi itu. Tengok kanan, tengok kiri, tengok kanan lagi.. dan... deg! Mataku tertancap pada sebuah pemandangan yg cukup mengagetkan. Tapi beberapa jenak kemudian, reflek tawaku yg langsung bereaksi atas fenomena itu.

Maaf, maaf. Ini tak bermaksud sama sekali sebagai bentuk penghinaan atau apalah namanya. Hanya saja syaraf-syaraf otakku terlanjur menanggapinya sebagai sebuah kelucuan. Sungguh, andai aku tak sibuk dengan tawaku dan ingat buat mengambil hape jadulku lantas memindahkan pemandangan itu lewat kamera, pastilah sudah ku-up load gambarnya di sini. Dan aku yakin, siapapun yg melihatnya tentu bakal nyengir kuda kalau malas tertawa ngakak seperti aku.

Okelah, biar aku deskripsikan saja sebisaku...
Ketika tegang di tengah seliweran kendaraan tadi siang, aku dikejutkan oleh seraut wajah yg tiba-tiba saja muncul di depanku ketika aku menoleh. Dekat banget. Wajah seorang wanita setengah baya dengan bibir berlipstik merah menyala, tersenyum ke arahku. Di belakangnya tampak gerobak yg ditariknya sendiri, dengan tiga anak kecil di atasnya. Yeph! Aku kaget melihat senyum wanita itu. Tapi yg justru membuatku ngakak berat adalah tulisan yg tertera di samping gerobaknya:
AKU KECEWA KARENA GARUDA KEHILANGAN EKORNYA YANG KELIMA

Aku tertawa karena begitu mataku menangkap tulisan besar-besar yg dibuat dengan cat minyak merah itu, otakku langsung menyusun sebuah persepsi yg menggelikan lagi memilukan. Tak perlulah aku jelaskan karena aku tak mau memerangkap imajinasimu dengan arahanku. Lagipula, bukankah tidak mustahil bhw kalimat itu tak bermakna apa-apa sehingga tak membuatmu ikut tertawa sedemikian rupa?

Rabu, 06 Agustus 2008

THERE'S ALWAYS LOVE

You may not remember
when did it blow over
and everything gone by
Love,
when i get older
i wish i could be there at your side
to remind you
how i still love you
'cause it's never end
just for you, there's always love
just for you, my love is forever

Kamis, 31 Juli 2008

SAJAK SEGENGGAM

fotomu kupunya. cuma
sbab entah kupunyakah hatimu. kini
kupandang fotomu. cuma
sbab entah bisakah kujumpamu. nanti
segenggam rindu
segenggam asa
segenggam rasa
cinta
masih kugantung buatmu. cuma


(sejam yang lalu kubaca imelmu)

Minggu, 27 Juli 2008

LAW OF UEKI

Pernah liat film animasi yg tayang di Global tv itu? Jagoannya, Uweki, punya kemampuan mengubah sampah mjd pohon. Kebayang ga kalau tokoh itu nyata? Berapa juta pohon bisa tiba2 tumbuh dari berkubik2 sampah yg kita hasilkan tiap detik di keseharian? Pastilah ga bakal kepanasan kita saat di jalanan. Atau setidaknya hidung ga terlalu pengar saat beralih fungsi jd vacum cleaner di sepanjang jalan.

Tiba2 saja aku ingat kartun Jepang itu ketika tanpa sengaja membaca rubrik Surat Pembaca siang ini, di secarik koran bekas pembungkus gorengan. Suara Merdeka, edisi Minggu 6 April 2008. Surat yg ditulis Afnan Tio dg judul "Penghijauan Lewat Barter Kertas Afkir" itu, menawarkan bibit pohon utk dibarter dg bandrol bungkus rokok.

Hm... menarik juga kan? Itung2 buat menyukseskan program SGW, terutama bagi para hard smokers. Daripada cuma nyumbang asep rokok, mending nyumbang pohon juga kan buat mengurangi polusi? Atau akan lebih cakep kalau rela hati mau stop smoking. STOP SMOKING to eliminate globlal warming! (Upz! Ada yg melotot tu di sebelah..heheh...)

Ada yg berminatkah? Ne sedikit contekan dari sebagian isi surat itu:
Tio bersedia menampung tiap 20 bandrol rokok atau cukai tembakau yg masih utuh, utk ditukar dg bibit pohon randu(20), atau ketepeng bunga kuning(20), atau kelor(20), atau jati(12). Sedang buat yg suka majalah berbahasa Belanda, Tio bersedia memberi alamat penerbitan di Belanda yg siap mengirimkan majalahnya, gratis!

Terlepas dari konsistensinya, tak ada salahnya buat mencoba. Kalaupun ada kesulitan utk menanam bibit2 pohon itu, aku yakin banyak teman, baik perorangan atau LSM, yg bersedia menanamkannya buat kita.

So, you wanna try? Coba kontak alamat ini:

< AFNAN TIO
GEDONGMULYO RT 3/RW 1, LASEM