Lagi satu berita dengan tokoh yang sama: Sebuah Tabung Kompor Gas Bantuan Pemerintah Meledak dan Merenggut Nyawa Seorang Warga di Jawa Barat. Mengapa? Ya, mengapa?
Kuakui, memakai kompor gas memang jauh lebih irit dan bersih dibanding kompor mitan. Tapi nyatanya aku tak bisa menghalau rasa khawatir untuk mencoba memakainya. Ini alasanku...
Ketika baru mendapatkan jatah kompor beberapa bulan lalu, datang petugas lapangan dari rumah ke rumah untuk memberikan tutorial cara pakai, perawatan, dan emergency act sehubungan dengan kompor dan tabung 3 kiloan itu. Satu hal yang membuatku begitu ngotot nggak mau makai adalah ketika mas petugas menjelaskan tentang pentingnya mengganti regulator dan selang karena dua perangkat bawaan itu kurang aman: Regulator tidak otomatis dan selang bukan kwalitas standar karena tipis, tidak tahan api, serta gampang bolong jika digigit tikus. Haah?! Yang benar saja mas? Barang begini dibagi2? Apa judul setorinya duoong?? Rencana Pembunuhan terselubung?
Tapi aku buru2 stop mencecar komplain ke mas petugas. Mereka kan sekedar bertugas? Masih untung mereka mau terus terang shg aku mengantisipasinya dg nolak makai meski dapet jatah. Lagian, boro2 dah dikasi, masa mau macem2? Lantas kutanya si mas, berapa kira2 biaya penggantian itu. Si mas jawab, kurang lebih 200 ribu. Cep klakep. Kusenyumi mas petugas. 200 ribu? Duit dari hongkong?
Akhirnya, sampai hari ini, kompor subsidi itu masih perawan. Belum juga kujamah. Aku masih setia dg kompor mitan, meski untuk bisa menyalakannya aku hrs rela antri sepanjang siang.
Paranoid pada kompor itu kian bertambah ketika kemudian media massa memberitakan satu demi satu kompor itu meledak. Lepas dari kualitas kompor atau human error. Yg jelas: meleduk. Duk! Makin takut lagi ketika kebetulan kebakaran melalap rumah tetangga depan rumahku. Ya gara2 kompor gas lagi...
Entahlah... Kapan aku bisa pindah ke lain hati, eh, kompor. Asuransi pertamina untuk kecelakaan yg disebabkan oleh kompor itu, tak juga menggoyahkan hatiku. Apa gunanya klaim sekian juta jika harus celaka?? Hmm... No way lah yak!!
Jumat, 30 Mei 2008
Sabtu, 24 Mei 2008
PERTIWI, TRAGISNYA KISAHMU...
Sepertinya memang harus seperti ini. BBM, tidak bisa tidak, harus naik (lagi). Paling tidak sudah 2x dalam 3 tahun, pada periode SBY-Kala. Bukan apa2 kenapa aku mencatatnya. Cuma, baru pada kepemimpinan mereka aku mengenal istilah BLT, Bantuan Langsung (bikin) Tawuran. Wkakakikuk...Uhuk..Uhuk..Maaf, baru batuk.
Aku jadi trenyuh mengenang teman2 mahasiswa, LSM, juga elemen masyarakat lain yang begitu bersemangat dan optimis menggelar orasi. Beradu muka dg aparat yg kadang bikin sekarat. Mengenang mereka yg tak peduli peluh mengalir demi mewakili suara2 lemah kaum terjepit yg tak mungkin terdengar dari atas menara gading. Semata2 agar suara itu mampu menggerakkan sedikit rasa mereka, bahwa mlarat itu benar2 nggak nikmat!
Tapi memang nyatanya menghadapi orang2 lemah yg tak punya akses penting, jauh lebih mudah. Ya. Menggorok leher mereka tak repot2 amat. Ketimbang nego dg para pejabat agar gaji bulanannya rela dipotong 30% saja buat nutup sedikit bangkrutnya keuangan negara. Atau merayu pengusaha besar buat nambah sedikit lagi pajak progesifnya. Setidaknya, biarpun harga BBM melambung nggak tinggi2 amatlah jatuhnya,eh...terbangnya.
Tapi,sepertinya memang nggak bisa nggak: BBM tetep hrs naik. Demi kepentingan rakyat miskin juga katanya. jadi...tetaplah untuk tidak su'udzon. Semoga memang demikian.
Berbahagialah orang2 yg terpilih mendapatkan BLT. Anggap saja sbg gaji bulanan atas jasa2 kita menjadi penyelamat kas negara. Sebab, jer basuki mawa bea. Kemenangan selalu membutuhkan orang2 yg terkalahkan. Tapi, sungguh, jangan anggap ini sebagai kekalahan. Anggaplah ini sbg kesempatan membuktikan bakti pd pertiwi! Sebab kita lebih berani mempertaruhkan nyawa dg rela diet super ketat di segala bidang, dibandingkan mereka yg sudah terlanjur kekenyangan di atas sana. Sungguh, terimalah dg lapang dada!
...
wahai!
apa yang kau rasa
saat hari kemarin kau lihat rakyat diadu dengan aparat?
apa yang kau rasa
saat hari ini kau lihat wong mlarat diadu dengan wong mlarat?
Wahai,
nurani...
Aku jadi trenyuh mengenang teman2 mahasiswa, LSM, juga elemen masyarakat lain yang begitu bersemangat dan optimis menggelar orasi. Beradu muka dg aparat yg kadang bikin sekarat. Mengenang mereka yg tak peduli peluh mengalir demi mewakili suara2 lemah kaum terjepit yg tak mungkin terdengar dari atas menara gading. Semata2 agar suara itu mampu menggerakkan sedikit rasa mereka, bahwa mlarat itu benar2 nggak nikmat!
Tapi memang nyatanya menghadapi orang2 lemah yg tak punya akses penting, jauh lebih mudah. Ya. Menggorok leher mereka tak repot2 amat. Ketimbang nego dg para pejabat agar gaji bulanannya rela dipotong 30% saja buat nutup sedikit bangkrutnya keuangan negara. Atau merayu pengusaha besar buat nambah sedikit lagi pajak progesifnya. Setidaknya, biarpun harga BBM melambung nggak tinggi2 amatlah jatuhnya,eh...terbangnya.
Tapi,sepertinya memang nggak bisa nggak: BBM tetep hrs naik. Demi kepentingan rakyat miskin juga katanya. jadi...tetaplah untuk tidak su'udzon. Semoga memang demikian.
Berbahagialah orang2 yg terpilih mendapatkan BLT. Anggap saja sbg gaji bulanan atas jasa2 kita menjadi penyelamat kas negara. Sebab, jer basuki mawa bea. Kemenangan selalu membutuhkan orang2 yg terkalahkan. Tapi, sungguh, jangan anggap ini sebagai kekalahan. Anggaplah ini sbg kesempatan membuktikan bakti pd pertiwi! Sebab kita lebih berani mempertaruhkan nyawa dg rela diet super ketat di segala bidang, dibandingkan mereka yg sudah terlanjur kekenyangan di atas sana. Sungguh, terimalah dg lapang dada!
...
wahai!
apa yang kau rasa
saat hari kemarin kau lihat rakyat diadu dengan aparat?
apa yang kau rasa
saat hari ini kau lihat wong mlarat diadu dengan wong mlarat?
Wahai,
nurani...
Kamis, 22 Mei 2008
MENYAKITI VS MEMBELA DIRI

Suatu hari aku dipanggil guru kelas Alf,sulungku. Menurut beliau, Alf habis memukul teman laki2 sekelasnya hingga jatuh dan menangis (?!)
Ibu guru ganti mengintrogasiku ketika aku jemput Alf. Terpaksa aku ngaku bhw Alf memang kuajari sedikit 'ilmu' beladiri yg sempat kudapat saat sekolah. Maksudku, ya, buat olahraga. Sebab kulihat anak itu punya kelebihan energi yg hrs disalurkan. Atau bila suatu saat dia kepepet bahaya, 'ilmu' itu bisa dipakainya.
Tapi ternyata, Alf belum bisa memahami antara membela diri dan menyakiti. Belum bisa membedakan antara nakalnya teman sekelas dan bahaya yg sesungguhnya. Akhirnya, ya, begitulah... Jadi, siapa yg salah? Ya, emaknyalaaah... Kata ibu guru. Harusnya anak seumur dia jangan diajari kekerasan. (hah?!)
Aku cuma garuk2 kepala yg memang sdg gatal. Kupikir,tak perlu berargumen dulu. Disamping membahayakan posisi Alf, di luar dia sdh 'mbethathut' minta pulang. Mungkin lapar karena tiap pagi cuma sarapan segelas susu saja.
Di luar... kucubit pipi bidadariku itu dan kuacak rambutnya. Meski dalam hati aku jengkel entah pd siapa, aku toh tak bisa menimpakan kesalahan penuh padanya. Mungkin benar kata bu guru, jangan ajarkan kekerasan. Atau mungkin ga gitu2 amat kaleee...He.. Sebab aku melarang Alf menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Mungkin dia masih butuh penegasan saja. Bahwa menghadapi kekerasan dengan kekerasan hanya akan menimbulkan kekerasan yg lain. Ga ada matinya...!!
Alf tak banyak bicara di sepanjang jalan pulang. Tak seperti biasanya. Aku tak tahu, lapar...Atau takutkah ia. Baru setiba di rumah, dia membela diri sebelum sempat kuintrogasi. Aku cuma mengangguk2 sebelum dia menuturkan jalan cerita.
"Sudah?" Tanyaku. "Jangan diulang, ya?"
Alf mengangguk. "Ibu marah?" Tanyanya.
Kujawab dengan nyengir kuda. Dan seperti biasa, Alf merajuk dan memukuli lenganku.
Cha, bungsuku, yg tadinya tak menghiraukan kedatangan kami, akhirnya memperhatikan juga. Memberi semangat aku untuk menggelitik kakaknya.
Hhh... anak-anak... Senyum mereka membuatku selalu punya alasan untuk terus menapaki hari..
When I see you smile
I can face the world...
Ibu guru ganti mengintrogasiku ketika aku jemput Alf. Terpaksa aku ngaku bhw Alf memang kuajari sedikit 'ilmu' beladiri yg sempat kudapat saat sekolah. Maksudku, ya, buat olahraga. Sebab kulihat anak itu punya kelebihan energi yg hrs disalurkan. Atau bila suatu saat dia kepepet bahaya, 'ilmu' itu bisa dipakainya.
Tapi ternyata, Alf belum bisa memahami antara membela diri dan menyakiti. Belum bisa membedakan antara nakalnya teman sekelas dan bahaya yg sesungguhnya. Akhirnya, ya, begitulah... Jadi, siapa yg salah? Ya, emaknyalaaah... Kata ibu guru. Harusnya anak seumur dia jangan diajari kekerasan. (hah?!)
Aku cuma garuk2 kepala yg memang sdg gatal. Kupikir,tak perlu berargumen dulu. Disamping membahayakan posisi Alf, di luar dia sdh 'mbethathut' minta pulang. Mungkin lapar karena tiap pagi cuma sarapan segelas susu saja.
Di luar... kucubit pipi bidadariku itu dan kuacak rambutnya. Meski dalam hati aku jengkel entah pd siapa, aku toh tak bisa menimpakan kesalahan penuh padanya. Mungkin benar kata bu guru, jangan ajarkan kekerasan. Atau mungkin ga gitu2 amat kaleee...He.. Sebab aku melarang Alf menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Mungkin dia masih butuh penegasan saja. Bahwa menghadapi kekerasan dengan kekerasan hanya akan menimbulkan kekerasan yg lain. Ga ada matinya...!!
Alf tak banyak bicara di sepanjang jalan pulang. Tak seperti biasanya. Aku tak tahu, lapar...Atau takutkah ia. Baru setiba di rumah, dia membela diri sebelum sempat kuintrogasi. Aku cuma mengangguk2 sebelum dia menuturkan jalan cerita.
"Sudah?" Tanyaku. "Jangan diulang, ya?"
Alf mengangguk. "Ibu marah?" Tanyanya.
Kujawab dengan nyengir kuda. Dan seperti biasa, Alf merajuk dan memukuli lenganku.
Cha, bungsuku, yg tadinya tak menghiraukan kedatangan kami, akhirnya memperhatikan juga. Memberi semangat aku untuk menggelitik kakaknya.
Hhh... anak-anak... Senyum mereka membuatku selalu punya alasan untuk terus menapaki hari..
When I see you smile
I can face the world...
Langganan:
Postingan (Atom)
