Lepas. Bener-bener tertawa lepas. Alf, sulungku, sampai nanya, kenapa aku tertawa begitu rupa.
Siang yg panas dan kering tadi, seperti biasa aku jemput Alf dari sekolah. Berhenti sebentar di pinggir MT. Haryono, nunggu kesempatan buat nyebrang di jalan yg tak pernah sepi itu. Tengok kanan, tengok kiri, tengok kanan lagi.. dan... deg! Mataku tertancap pada sebuah pemandangan yg cukup mengagetkan. Tapi beberapa jenak kemudian, reflek tawaku yg langsung bereaksi atas fenomena itu.
Maaf, maaf. Ini tak bermaksud sama sekali sebagai bentuk penghinaan atau apalah namanya. Hanya saja syaraf-syaraf otakku terlanjur menanggapinya sebagai sebuah kelucuan. Sungguh, andai aku tak sibuk dengan tawaku dan ingat buat mengambil hape jadulku lantas memindahkan pemandangan itu lewat kamera, pastilah sudah ku-up load gambarnya di sini. Dan aku yakin, siapapun yg melihatnya tentu bakal nyengir kuda kalau malas tertawa ngakak seperti aku.
Okelah, biar aku deskripsikan saja sebisaku...
Ketika tegang di tengah seliweran kendaraan tadi siang, aku dikejutkan oleh seraut wajah yg tiba-tiba saja muncul di depanku ketika aku menoleh. Dekat banget. Wajah seorang wanita setengah baya dengan bibir berlipstik merah menyala, tersenyum ke arahku. Di belakangnya tampak gerobak yg ditariknya sendiri, dengan tiga anak kecil di atasnya. Yeph! Aku kaget melihat senyum wanita itu. Tapi yg justru membuatku ngakak berat adalah tulisan yg tertera di samping gerobaknya:
AKU KECEWA KARENA GARUDA KEHILANGAN EKORNYA YANG KELIMA
Aku tertawa karena begitu mataku menangkap tulisan besar-besar yg dibuat dengan cat minyak merah itu, otakku langsung menyusun sebuah persepsi yg menggelikan lagi memilukan. Tak perlulah aku jelaskan karena aku tak mau memerangkap imajinasimu dengan arahanku. Lagipula, bukankah tidak mustahil bhw kalimat itu tak bermakna apa-apa sehingga tak membuatmu ikut tertawa sedemikian rupa?
Minggu, 10 Agustus 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar