telah jauhkah dirimu, cinta?
ku sendiri berjalan dalam kelam
berlalu sunyi dihembus mimpi
kau...
seakan sulit tanganku menjangkau
walau di hati ini
kau kupeluk erat
Sabtu, 20 September 2008
Kamis, 18 September 2008
KETIKA HATI SAKIT, BUKANKAH MATA IKUT MENANGIS ?
Setidaknya kita masih manusia yang jelas punya rasa. Sedangkan binatang saja masih rela berbagi dengan sesamanya...
Sedih ya, melihat berita di media massa akhir-akhir ini. Betapa ternyata kita makin miskin di semua sisi. Bukan saja materi, bahkan pengikisan itu telah merambah nurani.
Sepertinya kita tak perlu malu-malu lagi buat ngaku kalau kita miskin. Kalau toh, mau maksa bahwa negri ini kaya sumber daya, berhakkah kita semua mengklaimnya? Sebab nyatanya hanya segelintir orang saja yang bisa menikmati. Jadi jangan takjub kalau ada orang di negri ini yang dinobatkan sebagai bagian orang-orang terkaya di asia.
Betewe, kira-kira bagaimana ya, perasaan mereka? Sementara di sekelilingnya masih ada yang berebut dan rela menyabung nyawa demi 30 ribu rupiah. Masih ada yang terpaksa kreatif mendaur ulang makanan sampah demi mempertahankan asap dapur. Masih ada yang terpaksa menenangkan cacing-cacing perutnya dengan makanan yang sudah tak layak makan. Sebuah ironi ya?
Entah masih banggakah mereka dengan kekayaannya. Sementara ketika keluar rumah, mata selalu terpapar pemandangan yang menyesakkan hati. Tidakkah mata ingin menangis?
Jangan terlalu menyudutkan tetangga-tetangga kita yang kaya ding... Karena pencapaian mereka juga pasti melalui kerja keras. Hanya saja mungkin mereka jauh lebih beruntung bisa menikmatinya lebih cepat.
Bukan tak mungkin, mereka juga nangis di hati melihat sekelilingnya. Toh, mereka juga manusia. Punya rasa, punya hati (eitz.. Nyanyi to?) Tak sedikit pula yang suka nyumbang. Lihat ga, acara amalnya sering dipublikasikan? Wuuiih...! ^+^
Hanya saja, mungkin jumlah si miskin jauh lebih banyak hingga tak sebanding dengan jumlah penyumbang, jumlah sumbangan, dan frekuensi menyumbang. Atau ada baiknya memikirkan bagaimana mengubah agar mereka tak lagi menggantungkan diri pada sumbangan. Mengajarinya untuk bangun lalu menjadikannya partner berkompetisi. Tapi... lagi-lagi... semua tak semudah membalik telapak tangan. Apalagi saat ini kita telah terperosok teramat dalam...
Yeph! Moga saja kita belum mati rasa. Anggota badan lain masih bisa merasa, ketika hati sakit, mata ikut menangis, dan tangan rela menyeka air mata yang bergulir di pipi. Semoga...
Sedih ya, melihat berita di media massa akhir-akhir ini. Betapa ternyata kita makin miskin di semua sisi. Bukan saja materi, bahkan pengikisan itu telah merambah nurani.
Sepertinya kita tak perlu malu-malu lagi buat ngaku kalau kita miskin. Kalau toh, mau maksa bahwa negri ini kaya sumber daya, berhakkah kita semua mengklaimnya? Sebab nyatanya hanya segelintir orang saja yang bisa menikmati. Jadi jangan takjub kalau ada orang di negri ini yang dinobatkan sebagai bagian orang-orang terkaya di asia.
Betewe, kira-kira bagaimana ya, perasaan mereka? Sementara di sekelilingnya masih ada yang berebut dan rela menyabung nyawa demi 30 ribu rupiah. Masih ada yang terpaksa kreatif mendaur ulang makanan sampah demi mempertahankan asap dapur. Masih ada yang terpaksa menenangkan cacing-cacing perutnya dengan makanan yang sudah tak layak makan. Sebuah ironi ya?
Entah masih banggakah mereka dengan kekayaannya. Sementara ketika keluar rumah, mata selalu terpapar pemandangan yang menyesakkan hati. Tidakkah mata ingin menangis?
Jangan terlalu menyudutkan tetangga-tetangga kita yang kaya ding... Karena pencapaian mereka juga pasti melalui kerja keras. Hanya saja mungkin mereka jauh lebih beruntung bisa menikmatinya lebih cepat.
Bukan tak mungkin, mereka juga nangis di hati melihat sekelilingnya. Toh, mereka juga manusia. Punya rasa, punya hati (eitz.. Nyanyi to?) Tak sedikit pula yang suka nyumbang. Lihat ga, acara amalnya sering dipublikasikan? Wuuiih...! ^+^
Hanya saja, mungkin jumlah si miskin jauh lebih banyak hingga tak sebanding dengan jumlah penyumbang, jumlah sumbangan, dan frekuensi menyumbang. Atau ada baiknya memikirkan bagaimana mengubah agar mereka tak lagi menggantungkan diri pada sumbangan. Mengajarinya untuk bangun lalu menjadikannya partner berkompetisi. Tapi... lagi-lagi... semua tak semudah membalik telapak tangan. Apalagi saat ini kita telah terperosok teramat dalam...
Yeph! Moga saja kita belum mati rasa. Anggota badan lain masih bisa merasa, ketika hati sakit, mata ikut menangis, dan tangan rela menyeka air mata yang bergulir di pipi. Semoga...
Jumat, 05 September 2008
UANG BUKAN SEGALANYA, TAPI...
Ibu sakit. Satu-satunya orang tuaku setelah ayah dipanggil, saat ini harus bolak-balik ke rumah sakit karena pembekakan hati. Tak ada yg bisa aku dan kedua adikku lakukan kecuali mensuport ibu agar sabar dan tabah melalui cobaan ini. Karena sehat dan sakit datangnya dari Alloh, maka hanya kepadaNya manusia mohon jalan terbaik.
Saat ini mulai terlintas di kepalaku, andai aku punya banyak uang. Sebelumnya aku cukup mensyukuri apa yg kudapat sekarang. Maksudku, bukan aku tak bersyukur lagi atas rizki saat ini. Tapi, kalau saja aku bisa lebih banyak menyisihkan uang, pasti aku tak pusing lagi memikirkan bagaimana cara mengupayakan kesembuhan ibu.
Okelah, mungkin pernah juga terlintas di hatimu, perasaan ingin membantu saat kawanmu terpaksa 'puasa' karena kiriman belum datang. Atau saat kau lihat banyak anak terpaksa putus sekolah karena tak punya biaya buat melanjutkan. Atau saat kau lihat berapa puluh tunawisma tidur di emper toko dan kehujanan. Atau banyak pemandangan lagi yg menyayat nurani kemanusiaanmu.
Coba pikirkan kalau kamu punya cukup banyak uang. Berapa kawan yg bisa kau tolong melalui uangmu itu? Berapa banyak pemandangan pilu bisa kau ubah menjadi sebuah semangat baru?
Jadi, apakah dengan begitu kamu setuju denganku, bahwa uang bukan segalanya, tapi punya banyak uang juga perlu?
Saat ini mulai terlintas di kepalaku, andai aku punya banyak uang. Sebelumnya aku cukup mensyukuri apa yg kudapat sekarang. Maksudku, bukan aku tak bersyukur lagi atas rizki saat ini. Tapi, kalau saja aku bisa lebih banyak menyisihkan uang, pasti aku tak pusing lagi memikirkan bagaimana cara mengupayakan kesembuhan ibu.
Okelah, mungkin pernah juga terlintas di hatimu, perasaan ingin membantu saat kawanmu terpaksa 'puasa' karena kiriman belum datang. Atau saat kau lihat banyak anak terpaksa putus sekolah karena tak punya biaya buat melanjutkan. Atau saat kau lihat berapa puluh tunawisma tidur di emper toko dan kehujanan. Atau banyak pemandangan lagi yg menyayat nurani kemanusiaanmu.
Coba pikirkan kalau kamu punya cukup banyak uang. Berapa kawan yg bisa kau tolong melalui uangmu itu? Berapa banyak pemandangan pilu bisa kau ubah menjadi sebuah semangat baru?
Jadi, apakah dengan begitu kamu setuju denganku, bahwa uang bukan segalanya, tapi punya banyak uang juga perlu?
Rabu, 03 September 2008
INDAH... KERAGAMAN DALAM KEBERSAMAAN
Ramadhan...
Aku inget banget sebuah cerita yang dituturkan seorang keponakanku, tentang ramadhan di keluarganya. Demi menghormati dan menghargai anggota keluarga lain yg sedang berpuasa, ibunya, yg juga tanteku, hanya memasak untuk berbuka sekaligus sahur. Bahkan dia mengunci semua makanan dalam almari makan dan hanya boleh diambil atas ijinnya. Jadi, jika ada anggota keluarga lain yg tak berpuasa, harus rela ikut menahan haus dan lapar juga meski tak selama orang berpuasa.
Tyar, keponakanku yg sering bolong puasa itupun merasa tersiksa karena cuma bisa makan makanan kecil saja sepanjang hari. Ketika protes, ibunya ringan menjawab, "salah sendiri, bulan ramadhan ko nggak puasa..."
Dan Tyarpun cuma bisa menahan emosi.
Mungkin itu cuma sebagian kecil usaha untuk menunjukkan penghargaan pada orang-orang yg berpuasa. Ada banyak peristiwa lagi yg terekspose media, tentang bagaimana orang atau sekelompok ormas melakukan sweeping dengan dasar, untuk menghormati Ramadhan. Yeph! Benar atau salahkah itu? Tak jelas bagiku.
Aku sangat setuju bahwa Ramadhan harus menjadi bulan pencerah bagi hati dan jiwa yg lelah dan penuh debu. Bulan yg paling ditunggu untuk meraih ampunan Alloh. Tapi sudah cukup rasanya, mata dan telingaku menyaksikan berita-berita pilu sepanjang bulan-bulan sebelumnya. Rasa manusiaku telah ingin sekali melalui Ramadhan suci ini dengan kesejukan.Alangkah indahnya jika Ramadhan bisa dilewati dengan penuh kedamaian. Kalau selama ini aku, juga mungkin kamu, selalu diingatkan untuk menghormati dan menghargai orang-orang yg berpuasa, mungkin sudah waktunya pula orang menghargai mereka yg tidak berpuasa. Sebab aku, juga kamu, tak perlu jadi manja karena berpuasa. Cukuplah Alloh saja yg memanjakan dengan beribu rahmat dan ampunan sebagai imbalan untuk amal dan ibadah yg ikhlas dijalankan. Karena memang ibadah ini cuma Dia yg tahu. Orang bisa dengar dan lihat, aku, atau kamu, tak makan seharian. Tapi siapa yg tahu, aku, atau kamu, minum di belakang pintu?
Rasanya, tak perlu ngotot minta dihormati dan dihargai. Belum tentu yg menghargai itu tulus melakukannya. Biarkan semua mengalir seperti biasanya. Dengar saja burung yg berkicau setiap pagi. Mereka tak ngotot kan, ngicaunya? Tapi tetep kedengeran merdu. Justru itulah yg membuat pagi jadi selalu indah...
Aku inget banget sebuah cerita yang dituturkan seorang keponakanku, tentang ramadhan di keluarganya. Demi menghormati dan menghargai anggota keluarga lain yg sedang berpuasa, ibunya, yg juga tanteku, hanya memasak untuk berbuka sekaligus sahur. Bahkan dia mengunci semua makanan dalam almari makan dan hanya boleh diambil atas ijinnya. Jadi, jika ada anggota keluarga lain yg tak berpuasa, harus rela ikut menahan haus dan lapar juga meski tak selama orang berpuasa.
Tyar, keponakanku yg sering bolong puasa itupun merasa tersiksa karena cuma bisa makan makanan kecil saja sepanjang hari. Ketika protes, ibunya ringan menjawab, "salah sendiri, bulan ramadhan ko nggak puasa..."
Dan Tyarpun cuma bisa menahan emosi.
Mungkin itu cuma sebagian kecil usaha untuk menunjukkan penghargaan pada orang-orang yg berpuasa. Ada banyak peristiwa lagi yg terekspose media, tentang bagaimana orang atau sekelompok ormas melakukan sweeping dengan dasar, untuk menghormati Ramadhan. Yeph! Benar atau salahkah itu? Tak jelas bagiku.
Aku sangat setuju bahwa Ramadhan harus menjadi bulan pencerah bagi hati dan jiwa yg lelah dan penuh debu. Bulan yg paling ditunggu untuk meraih ampunan Alloh. Tapi sudah cukup rasanya, mata dan telingaku menyaksikan berita-berita pilu sepanjang bulan-bulan sebelumnya. Rasa manusiaku telah ingin sekali melalui Ramadhan suci ini dengan kesejukan.Alangkah indahnya jika Ramadhan bisa dilewati dengan penuh kedamaian. Kalau selama ini aku, juga mungkin kamu, selalu diingatkan untuk menghormati dan menghargai orang-orang yg berpuasa, mungkin sudah waktunya pula orang menghargai mereka yg tidak berpuasa. Sebab aku, juga kamu, tak perlu jadi manja karena berpuasa. Cukuplah Alloh saja yg memanjakan dengan beribu rahmat dan ampunan sebagai imbalan untuk amal dan ibadah yg ikhlas dijalankan. Karena memang ibadah ini cuma Dia yg tahu. Orang bisa dengar dan lihat, aku, atau kamu, tak makan seharian. Tapi siapa yg tahu, aku, atau kamu, minum di belakang pintu?
Rasanya, tak perlu ngotot minta dihormati dan dihargai. Belum tentu yg menghargai itu tulus melakukannya. Biarkan semua mengalir seperti biasanya. Dengar saja burung yg berkicau setiap pagi. Mereka tak ngotot kan, ngicaunya? Tapi tetep kedengeran merdu. Justru itulah yg membuat pagi jadi selalu indah...
Langganan:
Postingan (Atom)
