Rabu, 03 September 2008

INDAH... KERAGAMAN DALAM KEBERSAMAAN

Ramadhan...

Aku inget banget sebuah cerita yang dituturkan seorang keponakanku, tentang ramadhan di keluarganya. Demi menghormati dan menghargai anggota keluarga lain yg sedang berpuasa, ibunya, yg juga tanteku, hanya memasak untuk berbuka sekaligus sahur. Bahkan dia mengunci semua makanan dalam almari makan dan hanya boleh diambil atas ijinnya. Jadi, jika ada anggota keluarga lain yg tak berpuasa, harus rela ikut menahan haus dan lapar juga meski tak selama orang berpuasa.

Tyar, keponakanku yg sering bolong puasa itupun merasa tersiksa karena cuma bisa makan makanan kecil saja sepanjang hari. Ketika protes, ibunya ringan menjawab, "salah sendiri, bulan ramadhan ko nggak puasa..."
Dan Tyarpun cuma bisa menahan emosi.

Mungkin itu cuma sebagian kecil usaha untuk menunjukkan penghargaan pada orang-orang yg berpuasa. Ada banyak peristiwa lagi yg terekspose media, tentang bagaimana orang atau sekelompok ormas melakukan sweeping dengan dasar, untuk menghormati Ramadhan. Yeph! Benar atau salahkah itu? Tak jelas bagiku.

Aku sangat setuju bahwa Ramadhan harus menjadi bulan pencerah bagi hati dan jiwa yg lelah dan penuh debu. Bulan yg paling ditunggu untuk meraih ampunan Alloh. Tapi sudah cukup rasanya, mata dan telingaku menyaksikan berita-berita pilu sepanjang bulan-bulan sebelumnya. Rasa manusiaku telah ingin sekali melalui Ramadhan suci ini dengan kesejukan.Alangkah indahnya jika Ramadhan bisa dilewati dengan penuh kedamaian. Kalau selama ini aku, juga mungkin kamu, selalu diingatkan untuk menghormati dan menghargai orang-orang yg berpuasa, mungkin sudah waktunya pula orang menghargai mereka yg tidak berpuasa. Sebab aku, juga kamu, tak perlu jadi manja karena berpuasa. Cukuplah Alloh saja yg memanjakan dengan beribu rahmat dan ampunan sebagai imbalan untuk amal dan ibadah yg ikhlas dijalankan. Karena memang ibadah ini cuma Dia yg tahu. Orang bisa dengar dan lihat, aku, atau kamu, tak makan seharian. Tapi siapa yg tahu, aku, atau kamu, minum di belakang pintu?

Rasanya, tak perlu ngotot minta dihormati dan dihargai. Belum tentu yg menghargai itu tulus melakukannya. Biarkan semua mengalir seperti biasanya. Dengar saja burung yg berkicau setiap pagi. Mereka tak ngotot kan, ngicaunya? Tapi tetep kedengeran merdu. Justru itulah yg membuat pagi jadi selalu indah...

Tidak ada komentar: