Setidaknya kita masih manusia yang jelas punya rasa. Sedangkan binatang saja masih rela berbagi dengan sesamanya...
Sedih ya, melihat berita di media massa akhir-akhir ini. Betapa ternyata kita makin miskin di semua sisi. Bukan saja materi, bahkan pengikisan itu telah merambah nurani.
Sepertinya kita tak perlu malu-malu lagi buat ngaku kalau kita miskin. Kalau toh, mau maksa bahwa negri ini kaya sumber daya, berhakkah kita semua mengklaimnya? Sebab nyatanya hanya segelintir orang saja yang bisa menikmati. Jadi jangan takjub kalau ada orang di negri ini yang dinobatkan sebagai bagian orang-orang terkaya di asia.
Betewe, kira-kira bagaimana ya, perasaan mereka? Sementara di sekelilingnya masih ada yang berebut dan rela menyabung nyawa demi 30 ribu rupiah. Masih ada yang terpaksa kreatif mendaur ulang makanan sampah demi mempertahankan asap dapur. Masih ada yang terpaksa menenangkan cacing-cacing perutnya dengan makanan yang sudah tak layak makan. Sebuah ironi ya?
Entah masih banggakah mereka dengan kekayaannya. Sementara ketika keluar rumah, mata selalu terpapar pemandangan yang menyesakkan hati. Tidakkah mata ingin menangis?
Jangan terlalu menyudutkan tetangga-tetangga kita yang kaya ding... Karena pencapaian mereka juga pasti melalui kerja keras. Hanya saja mungkin mereka jauh lebih beruntung bisa menikmatinya lebih cepat.
Bukan tak mungkin, mereka juga nangis di hati melihat sekelilingnya. Toh, mereka juga manusia. Punya rasa, punya hati (eitz.. Nyanyi to?) Tak sedikit pula yang suka nyumbang. Lihat ga, acara amalnya sering dipublikasikan? Wuuiih...! ^+^
Hanya saja, mungkin jumlah si miskin jauh lebih banyak hingga tak sebanding dengan jumlah penyumbang, jumlah sumbangan, dan frekuensi menyumbang. Atau ada baiknya memikirkan bagaimana mengubah agar mereka tak lagi menggantungkan diri pada sumbangan. Mengajarinya untuk bangun lalu menjadikannya partner berkompetisi. Tapi... lagi-lagi... semua tak semudah membalik telapak tangan. Apalagi saat ini kita telah terperosok teramat dalam...
Yeph! Moga saja kita belum mati rasa. Anggota badan lain masih bisa merasa, ketika hati sakit, mata ikut menangis, dan tangan rela menyeka air mata yang bergulir di pipi. Semoga...
Kamis, 18 September 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar