telah jauhkah dirimu, cinta?
ku sendiri berjalan dalam kelam
berlalu sunyi dihembus mimpi
kau...
seakan sulit tanganku menjangkau
walau di hati ini
kau kupeluk erat
Sabtu, 20 September 2008
Kamis, 18 September 2008
KETIKA HATI SAKIT, BUKANKAH MATA IKUT MENANGIS ?
Setidaknya kita masih manusia yang jelas punya rasa. Sedangkan binatang saja masih rela berbagi dengan sesamanya...
Sedih ya, melihat berita di media massa akhir-akhir ini. Betapa ternyata kita makin miskin di semua sisi. Bukan saja materi, bahkan pengikisan itu telah merambah nurani.
Sepertinya kita tak perlu malu-malu lagi buat ngaku kalau kita miskin. Kalau toh, mau maksa bahwa negri ini kaya sumber daya, berhakkah kita semua mengklaimnya? Sebab nyatanya hanya segelintir orang saja yang bisa menikmati. Jadi jangan takjub kalau ada orang di negri ini yang dinobatkan sebagai bagian orang-orang terkaya di asia.
Betewe, kira-kira bagaimana ya, perasaan mereka? Sementara di sekelilingnya masih ada yang berebut dan rela menyabung nyawa demi 30 ribu rupiah. Masih ada yang terpaksa kreatif mendaur ulang makanan sampah demi mempertahankan asap dapur. Masih ada yang terpaksa menenangkan cacing-cacing perutnya dengan makanan yang sudah tak layak makan. Sebuah ironi ya?
Entah masih banggakah mereka dengan kekayaannya. Sementara ketika keluar rumah, mata selalu terpapar pemandangan yang menyesakkan hati. Tidakkah mata ingin menangis?
Jangan terlalu menyudutkan tetangga-tetangga kita yang kaya ding... Karena pencapaian mereka juga pasti melalui kerja keras. Hanya saja mungkin mereka jauh lebih beruntung bisa menikmatinya lebih cepat.
Bukan tak mungkin, mereka juga nangis di hati melihat sekelilingnya. Toh, mereka juga manusia. Punya rasa, punya hati (eitz.. Nyanyi to?) Tak sedikit pula yang suka nyumbang. Lihat ga, acara amalnya sering dipublikasikan? Wuuiih...! ^+^
Hanya saja, mungkin jumlah si miskin jauh lebih banyak hingga tak sebanding dengan jumlah penyumbang, jumlah sumbangan, dan frekuensi menyumbang. Atau ada baiknya memikirkan bagaimana mengubah agar mereka tak lagi menggantungkan diri pada sumbangan. Mengajarinya untuk bangun lalu menjadikannya partner berkompetisi. Tapi... lagi-lagi... semua tak semudah membalik telapak tangan. Apalagi saat ini kita telah terperosok teramat dalam...
Yeph! Moga saja kita belum mati rasa. Anggota badan lain masih bisa merasa, ketika hati sakit, mata ikut menangis, dan tangan rela menyeka air mata yang bergulir di pipi. Semoga...
Sedih ya, melihat berita di media massa akhir-akhir ini. Betapa ternyata kita makin miskin di semua sisi. Bukan saja materi, bahkan pengikisan itu telah merambah nurani.
Sepertinya kita tak perlu malu-malu lagi buat ngaku kalau kita miskin. Kalau toh, mau maksa bahwa negri ini kaya sumber daya, berhakkah kita semua mengklaimnya? Sebab nyatanya hanya segelintir orang saja yang bisa menikmati. Jadi jangan takjub kalau ada orang di negri ini yang dinobatkan sebagai bagian orang-orang terkaya di asia.
Betewe, kira-kira bagaimana ya, perasaan mereka? Sementara di sekelilingnya masih ada yang berebut dan rela menyabung nyawa demi 30 ribu rupiah. Masih ada yang terpaksa kreatif mendaur ulang makanan sampah demi mempertahankan asap dapur. Masih ada yang terpaksa menenangkan cacing-cacing perutnya dengan makanan yang sudah tak layak makan. Sebuah ironi ya?
Entah masih banggakah mereka dengan kekayaannya. Sementara ketika keluar rumah, mata selalu terpapar pemandangan yang menyesakkan hati. Tidakkah mata ingin menangis?
Jangan terlalu menyudutkan tetangga-tetangga kita yang kaya ding... Karena pencapaian mereka juga pasti melalui kerja keras. Hanya saja mungkin mereka jauh lebih beruntung bisa menikmatinya lebih cepat.
Bukan tak mungkin, mereka juga nangis di hati melihat sekelilingnya. Toh, mereka juga manusia. Punya rasa, punya hati (eitz.. Nyanyi to?) Tak sedikit pula yang suka nyumbang. Lihat ga, acara amalnya sering dipublikasikan? Wuuiih...! ^+^
Hanya saja, mungkin jumlah si miskin jauh lebih banyak hingga tak sebanding dengan jumlah penyumbang, jumlah sumbangan, dan frekuensi menyumbang. Atau ada baiknya memikirkan bagaimana mengubah agar mereka tak lagi menggantungkan diri pada sumbangan. Mengajarinya untuk bangun lalu menjadikannya partner berkompetisi. Tapi... lagi-lagi... semua tak semudah membalik telapak tangan. Apalagi saat ini kita telah terperosok teramat dalam...
Yeph! Moga saja kita belum mati rasa. Anggota badan lain masih bisa merasa, ketika hati sakit, mata ikut menangis, dan tangan rela menyeka air mata yang bergulir di pipi. Semoga...
Jumat, 05 September 2008
UANG BUKAN SEGALANYA, TAPI...
Ibu sakit. Satu-satunya orang tuaku setelah ayah dipanggil, saat ini harus bolak-balik ke rumah sakit karena pembekakan hati. Tak ada yg bisa aku dan kedua adikku lakukan kecuali mensuport ibu agar sabar dan tabah melalui cobaan ini. Karena sehat dan sakit datangnya dari Alloh, maka hanya kepadaNya manusia mohon jalan terbaik.
Saat ini mulai terlintas di kepalaku, andai aku punya banyak uang. Sebelumnya aku cukup mensyukuri apa yg kudapat sekarang. Maksudku, bukan aku tak bersyukur lagi atas rizki saat ini. Tapi, kalau saja aku bisa lebih banyak menyisihkan uang, pasti aku tak pusing lagi memikirkan bagaimana cara mengupayakan kesembuhan ibu.
Okelah, mungkin pernah juga terlintas di hatimu, perasaan ingin membantu saat kawanmu terpaksa 'puasa' karena kiriman belum datang. Atau saat kau lihat banyak anak terpaksa putus sekolah karena tak punya biaya buat melanjutkan. Atau saat kau lihat berapa puluh tunawisma tidur di emper toko dan kehujanan. Atau banyak pemandangan lagi yg menyayat nurani kemanusiaanmu.
Coba pikirkan kalau kamu punya cukup banyak uang. Berapa kawan yg bisa kau tolong melalui uangmu itu? Berapa banyak pemandangan pilu bisa kau ubah menjadi sebuah semangat baru?
Jadi, apakah dengan begitu kamu setuju denganku, bahwa uang bukan segalanya, tapi punya banyak uang juga perlu?
Saat ini mulai terlintas di kepalaku, andai aku punya banyak uang. Sebelumnya aku cukup mensyukuri apa yg kudapat sekarang. Maksudku, bukan aku tak bersyukur lagi atas rizki saat ini. Tapi, kalau saja aku bisa lebih banyak menyisihkan uang, pasti aku tak pusing lagi memikirkan bagaimana cara mengupayakan kesembuhan ibu.
Okelah, mungkin pernah juga terlintas di hatimu, perasaan ingin membantu saat kawanmu terpaksa 'puasa' karena kiriman belum datang. Atau saat kau lihat banyak anak terpaksa putus sekolah karena tak punya biaya buat melanjutkan. Atau saat kau lihat berapa puluh tunawisma tidur di emper toko dan kehujanan. Atau banyak pemandangan lagi yg menyayat nurani kemanusiaanmu.
Coba pikirkan kalau kamu punya cukup banyak uang. Berapa kawan yg bisa kau tolong melalui uangmu itu? Berapa banyak pemandangan pilu bisa kau ubah menjadi sebuah semangat baru?
Jadi, apakah dengan begitu kamu setuju denganku, bahwa uang bukan segalanya, tapi punya banyak uang juga perlu?
Rabu, 03 September 2008
INDAH... KERAGAMAN DALAM KEBERSAMAAN
Ramadhan...
Aku inget banget sebuah cerita yang dituturkan seorang keponakanku, tentang ramadhan di keluarganya. Demi menghormati dan menghargai anggota keluarga lain yg sedang berpuasa, ibunya, yg juga tanteku, hanya memasak untuk berbuka sekaligus sahur. Bahkan dia mengunci semua makanan dalam almari makan dan hanya boleh diambil atas ijinnya. Jadi, jika ada anggota keluarga lain yg tak berpuasa, harus rela ikut menahan haus dan lapar juga meski tak selama orang berpuasa.
Tyar, keponakanku yg sering bolong puasa itupun merasa tersiksa karena cuma bisa makan makanan kecil saja sepanjang hari. Ketika protes, ibunya ringan menjawab, "salah sendiri, bulan ramadhan ko nggak puasa..."
Dan Tyarpun cuma bisa menahan emosi.
Mungkin itu cuma sebagian kecil usaha untuk menunjukkan penghargaan pada orang-orang yg berpuasa. Ada banyak peristiwa lagi yg terekspose media, tentang bagaimana orang atau sekelompok ormas melakukan sweeping dengan dasar, untuk menghormati Ramadhan. Yeph! Benar atau salahkah itu? Tak jelas bagiku.
Aku sangat setuju bahwa Ramadhan harus menjadi bulan pencerah bagi hati dan jiwa yg lelah dan penuh debu. Bulan yg paling ditunggu untuk meraih ampunan Alloh. Tapi sudah cukup rasanya, mata dan telingaku menyaksikan berita-berita pilu sepanjang bulan-bulan sebelumnya. Rasa manusiaku telah ingin sekali melalui Ramadhan suci ini dengan kesejukan.Alangkah indahnya jika Ramadhan bisa dilewati dengan penuh kedamaian. Kalau selama ini aku, juga mungkin kamu, selalu diingatkan untuk menghormati dan menghargai orang-orang yg berpuasa, mungkin sudah waktunya pula orang menghargai mereka yg tidak berpuasa. Sebab aku, juga kamu, tak perlu jadi manja karena berpuasa. Cukuplah Alloh saja yg memanjakan dengan beribu rahmat dan ampunan sebagai imbalan untuk amal dan ibadah yg ikhlas dijalankan. Karena memang ibadah ini cuma Dia yg tahu. Orang bisa dengar dan lihat, aku, atau kamu, tak makan seharian. Tapi siapa yg tahu, aku, atau kamu, minum di belakang pintu?
Rasanya, tak perlu ngotot minta dihormati dan dihargai. Belum tentu yg menghargai itu tulus melakukannya. Biarkan semua mengalir seperti biasanya. Dengar saja burung yg berkicau setiap pagi. Mereka tak ngotot kan, ngicaunya? Tapi tetep kedengeran merdu. Justru itulah yg membuat pagi jadi selalu indah...
Aku inget banget sebuah cerita yang dituturkan seorang keponakanku, tentang ramadhan di keluarganya. Demi menghormati dan menghargai anggota keluarga lain yg sedang berpuasa, ibunya, yg juga tanteku, hanya memasak untuk berbuka sekaligus sahur. Bahkan dia mengunci semua makanan dalam almari makan dan hanya boleh diambil atas ijinnya. Jadi, jika ada anggota keluarga lain yg tak berpuasa, harus rela ikut menahan haus dan lapar juga meski tak selama orang berpuasa.
Tyar, keponakanku yg sering bolong puasa itupun merasa tersiksa karena cuma bisa makan makanan kecil saja sepanjang hari. Ketika protes, ibunya ringan menjawab, "salah sendiri, bulan ramadhan ko nggak puasa..."
Dan Tyarpun cuma bisa menahan emosi.
Mungkin itu cuma sebagian kecil usaha untuk menunjukkan penghargaan pada orang-orang yg berpuasa. Ada banyak peristiwa lagi yg terekspose media, tentang bagaimana orang atau sekelompok ormas melakukan sweeping dengan dasar, untuk menghormati Ramadhan. Yeph! Benar atau salahkah itu? Tak jelas bagiku.
Aku sangat setuju bahwa Ramadhan harus menjadi bulan pencerah bagi hati dan jiwa yg lelah dan penuh debu. Bulan yg paling ditunggu untuk meraih ampunan Alloh. Tapi sudah cukup rasanya, mata dan telingaku menyaksikan berita-berita pilu sepanjang bulan-bulan sebelumnya. Rasa manusiaku telah ingin sekali melalui Ramadhan suci ini dengan kesejukan.Alangkah indahnya jika Ramadhan bisa dilewati dengan penuh kedamaian. Kalau selama ini aku, juga mungkin kamu, selalu diingatkan untuk menghormati dan menghargai orang-orang yg berpuasa, mungkin sudah waktunya pula orang menghargai mereka yg tidak berpuasa. Sebab aku, juga kamu, tak perlu jadi manja karena berpuasa. Cukuplah Alloh saja yg memanjakan dengan beribu rahmat dan ampunan sebagai imbalan untuk amal dan ibadah yg ikhlas dijalankan. Karena memang ibadah ini cuma Dia yg tahu. Orang bisa dengar dan lihat, aku, atau kamu, tak makan seharian. Tapi siapa yg tahu, aku, atau kamu, minum di belakang pintu?
Rasanya, tak perlu ngotot minta dihormati dan dihargai. Belum tentu yg menghargai itu tulus melakukannya. Biarkan semua mengalir seperti biasanya. Dengar saja burung yg berkicau setiap pagi. Mereka tak ngotot kan, ngicaunya? Tapi tetep kedengeran merdu. Justru itulah yg membuat pagi jadi selalu indah...
Minggu, 10 Agustus 2008
PARODI JALAN RAYA
Lepas. Bener-bener tertawa lepas. Alf, sulungku, sampai nanya, kenapa aku tertawa begitu rupa.
Siang yg panas dan kering tadi, seperti biasa aku jemput Alf dari sekolah. Berhenti sebentar di pinggir MT. Haryono, nunggu kesempatan buat nyebrang di jalan yg tak pernah sepi itu. Tengok kanan, tengok kiri, tengok kanan lagi.. dan... deg! Mataku tertancap pada sebuah pemandangan yg cukup mengagetkan. Tapi beberapa jenak kemudian, reflek tawaku yg langsung bereaksi atas fenomena itu.
Maaf, maaf. Ini tak bermaksud sama sekali sebagai bentuk penghinaan atau apalah namanya. Hanya saja syaraf-syaraf otakku terlanjur menanggapinya sebagai sebuah kelucuan. Sungguh, andai aku tak sibuk dengan tawaku dan ingat buat mengambil hape jadulku lantas memindahkan pemandangan itu lewat kamera, pastilah sudah ku-up load gambarnya di sini. Dan aku yakin, siapapun yg melihatnya tentu bakal nyengir kuda kalau malas tertawa ngakak seperti aku.
Okelah, biar aku deskripsikan saja sebisaku...
Ketika tegang di tengah seliweran kendaraan tadi siang, aku dikejutkan oleh seraut wajah yg tiba-tiba saja muncul di depanku ketika aku menoleh. Dekat banget. Wajah seorang wanita setengah baya dengan bibir berlipstik merah menyala, tersenyum ke arahku. Di belakangnya tampak gerobak yg ditariknya sendiri, dengan tiga anak kecil di atasnya. Yeph! Aku kaget melihat senyum wanita itu. Tapi yg justru membuatku ngakak berat adalah tulisan yg tertera di samping gerobaknya:
AKU KECEWA KARENA GARUDA KEHILANGAN EKORNYA YANG KELIMA
Aku tertawa karena begitu mataku menangkap tulisan besar-besar yg dibuat dengan cat minyak merah itu, otakku langsung menyusun sebuah persepsi yg menggelikan lagi memilukan. Tak perlulah aku jelaskan karena aku tak mau memerangkap imajinasimu dengan arahanku. Lagipula, bukankah tidak mustahil bhw kalimat itu tak bermakna apa-apa sehingga tak membuatmu ikut tertawa sedemikian rupa?
Siang yg panas dan kering tadi, seperti biasa aku jemput Alf dari sekolah. Berhenti sebentar di pinggir MT. Haryono, nunggu kesempatan buat nyebrang di jalan yg tak pernah sepi itu. Tengok kanan, tengok kiri, tengok kanan lagi.. dan... deg! Mataku tertancap pada sebuah pemandangan yg cukup mengagetkan. Tapi beberapa jenak kemudian, reflek tawaku yg langsung bereaksi atas fenomena itu.
Maaf, maaf. Ini tak bermaksud sama sekali sebagai bentuk penghinaan atau apalah namanya. Hanya saja syaraf-syaraf otakku terlanjur menanggapinya sebagai sebuah kelucuan. Sungguh, andai aku tak sibuk dengan tawaku dan ingat buat mengambil hape jadulku lantas memindahkan pemandangan itu lewat kamera, pastilah sudah ku-up load gambarnya di sini. Dan aku yakin, siapapun yg melihatnya tentu bakal nyengir kuda kalau malas tertawa ngakak seperti aku.
Okelah, biar aku deskripsikan saja sebisaku...
Ketika tegang di tengah seliweran kendaraan tadi siang, aku dikejutkan oleh seraut wajah yg tiba-tiba saja muncul di depanku ketika aku menoleh. Dekat banget. Wajah seorang wanita setengah baya dengan bibir berlipstik merah menyala, tersenyum ke arahku. Di belakangnya tampak gerobak yg ditariknya sendiri, dengan tiga anak kecil di atasnya. Yeph! Aku kaget melihat senyum wanita itu. Tapi yg justru membuatku ngakak berat adalah tulisan yg tertera di samping gerobaknya:
AKU KECEWA KARENA GARUDA KEHILANGAN EKORNYA YANG KELIMA
Aku tertawa karena begitu mataku menangkap tulisan besar-besar yg dibuat dengan cat minyak merah itu, otakku langsung menyusun sebuah persepsi yg menggelikan lagi memilukan. Tak perlulah aku jelaskan karena aku tak mau memerangkap imajinasimu dengan arahanku. Lagipula, bukankah tidak mustahil bhw kalimat itu tak bermakna apa-apa sehingga tak membuatmu ikut tertawa sedemikian rupa?
Rabu, 06 Agustus 2008
THERE'S ALWAYS LOVE
You may not remember
when did it blow over
and everything gone by
Love,
when i get older
i wish i could be there at your side
to remind you
how i still love you
'cause it's never end
just for you, there's always love
just for you, my love is forever
when did it blow over
and everything gone by
Love,
when i get older
i wish i could be there at your side
to remind you
how i still love you
'cause it's never end
just for you, there's always love
just for you, my love is forever
Kamis, 31 Juli 2008
SAJAK SEGENGGAM
fotomu kupunya. cuma
sbab entah kupunyakah hatimu. kini
kupandang fotomu. cuma
sbab entah bisakah kujumpamu. nanti
segenggam rindu
segenggam asa
segenggam rasa
cinta
masih kugantung buatmu. cuma
(sejam yang lalu kubaca imelmu)
sbab entah kupunyakah hatimu. kini
kupandang fotomu. cuma
sbab entah bisakah kujumpamu. nanti
segenggam rindu
segenggam asa
segenggam rasa
cinta
masih kugantung buatmu. cuma
(sejam yang lalu kubaca imelmu)
Minggu, 27 Juli 2008
LAW OF UEKI
Pernah liat film animasi yg tayang di Global tv itu? Jagoannya, Uweki, punya kemampuan mengubah sampah mjd pohon. Kebayang ga kalau tokoh itu nyata? Berapa juta pohon bisa tiba2 tumbuh dari berkubik2 sampah yg kita hasilkan tiap detik di keseharian? Pastilah ga bakal kepanasan kita saat di jalanan. Atau setidaknya hidung ga terlalu pengar saat beralih fungsi jd vacum cleaner di sepanjang jalan.
Tiba2 saja aku ingat kartun Jepang itu ketika tanpa sengaja membaca rubrik Surat Pembaca siang ini, di secarik koran bekas pembungkus gorengan. Suara Merdeka, edisi Minggu 6 April 2008. Surat yg ditulis Afnan Tio dg judul "Penghijauan Lewat Barter Kertas Afkir" itu, menawarkan bibit pohon utk dibarter dg bandrol bungkus rokok.
Hm... menarik juga kan? Itung2 buat menyukseskan program SGW, terutama bagi para hard smokers. Daripada cuma nyumbang asep rokok, mending nyumbang pohon juga kan buat mengurangi polusi? Atau akan lebih cakep kalau rela hati mau stop smoking. STOP SMOKING to eliminate globlal warming! (Upz! Ada yg melotot tu di sebelah..heheh...)
Ada yg berminatkah? Ne sedikit contekan dari sebagian isi surat itu:
Tio bersedia menampung tiap 20 bandrol rokok atau cukai tembakau yg masih utuh, utk ditukar dg bibit pohon randu(20), atau ketepeng bunga kuning(20), atau kelor(20), atau jati(12). Sedang buat yg suka majalah berbahasa Belanda, Tio bersedia memberi alamat penerbitan di Belanda yg siap mengirimkan majalahnya, gratis!
Terlepas dari konsistensinya, tak ada salahnya buat mencoba. Kalaupun ada kesulitan utk menanam bibit2 pohon itu, aku yakin banyak teman, baik perorangan atau LSM, yg bersedia menanamkannya buat kita.
So, you wanna try? Coba kontak alamat ini:
< AFNAN TIO
GEDONGMULYO RT 3/RW 1, LASEM
Tiba2 saja aku ingat kartun Jepang itu ketika tanpa sengaja membaca rubrik Surat Pembaca siang ini, di secarik koran bekas pembungkus gorengan. Suara Merdeka, edisi Minggu 6 April 2008. Surat yg ditulis Afnan Tio dg judul "Penghijauan Lewat Barter Kertas Afkir" itu, menawarkan bibit pohon utk dibarter dg bandrol bungkus rokok.
Hm... menarik juga kan? Itung2 buat menyukseskan program SGW, terutama bagi para hard smokers. Daripada cuma nyumbang asep rokok, mending nyumbang pohon juga kan buat mengurangi polusi? Atau akan lebih cakep kalau rela hati mau stop smoking. STOP SMOKING to eliminate globlal warming! (Upz! Ada yg melotot tu di sebelah..heheh...)
Ada yg berminatkah? Ne sedikit contekan dari sebagian isi surat itu:
Tio bersedia menampung tiap 20 bandrol rokok atau cukai tembakau yg masih utuh, utk ditukar dg bibit pohon randu(20), atau ketepeng bunga kuning(20), atau kelor(20), atau jati(12). Sedang buat yg suka majalah berbahasa Belanda, Tio bersedia memberi alamat penerbitan di Belanda yg siap mengirimkan majalahnya, gratis!
Terlepas dari konsistensinya, tak ada salahnya buat mencoba. Kalaupun ada kesulitan utk menanam bibit2 pohon itu, aku yakin banyak teman, baik perorangan atau LSM, yg bersedia menanamkannya buat kita.
So, you wanna try? Coba kontak alamat ini:
< AFNAN TIO
GEDONGMULYO RT 3/RW 1, LASEM
Jumat, 25 Juli 2008
BULLY: TENTANG INTEGRITAS
Last night Bully said,"integrity distinguishes itself from other paths. Cz it is the only path upon which you will never get lost."
Bully adalah seorang teman dr dunia maya. Spt angin, dia datang dan pergi tanpa bisa kuduga keberadaannya. Dia muncul tiba2 dlm YMku.Meninggalkan pesan. Atau sesekali - jk beruntung - bercakap sebentar di ruang maya itu.
Dan aku cuma tahu,dia Bully. Nama yg aneh... Tanpa pernah kutahu identitasnya secara pasti. Pernah suatu kali aku tanyakan soal itu. Dia cuma menjawab, "Pentingkah?Andai Bully seorang perempuan,mungkin akan ditinggalkan. Cz biasanya,perempuan males ceting dg sesama perempuan.Atau jk Bully seorang laki2,Bully takut dijatuhi hati.Hwaahaha..hii..!"
Ih,narsis bener?
Akhirnya kuhentikan pencarian identitasnya.Biar.Daripada dia ke-GR-an mulu!Meski kadang aku kesulitan juga menangkap personalitasnya dlm ruang imajiku.
Bully bisa mjd siapa saja saat kuajak bicara. Teman,kala aku riuh bercanda. Adek,saat tiba2 aku jadi sangat sok tau. Kakak,saat aku butuh tempat merajuk. Bahkan org tua,saat aku butuh perlindungan ketika kepenatan hampir2 melenyapkan kesadaranku. Cuma satu yg tak mungkin. Ya,tentu saja,berperan sebagai suamiku. Hueheheh...
Kemarin malam kutemui Bully lagi setelah utk beberapa waktu tak kukunjungi ruang mayaku. Di YM dia telah meninggalkan pesan. Sepertinya dia pun sdg on line malam itu.
Percakapan kami mengalir bagai anak sungai. Kadang tenang, kadang juga riaknya
membuncah tiba2.
"Sibuk apa pe ga sempet OL?" Tulisnya.
"Bosen. Lagi pengen semedi bwt cari inspirasi," balasku.
"Bukannya inspirasi datang sendiri? Dia akan muncul justru ketika kamu ada di suatu tempat bersama org laen."
"Ga taulah. Mungkin lebih tepat dibilang introspeksi. Bukankah ulet hrs bertapa dulu sebelum jd kupu2?" (hahaha... Sok berfilsafat kan aku?)
"Terus? Mang kamu dah jd kupu?"
Hihi... Bingung aku. Sampai lama tak keluar jawaban. Mungkin Bully tau yg kupikirkan. Dia pun menulis lagi, "Coba pikirkan ttg integritas.Kira2 kamu dah punyakah?"
"Ha? Mangsuté?" Singkat tulisku.
Tapi Bully tak juga membalas. Ini bagian yg paling menyebalkan dr dirinya: menggantungkan pertanyaan.
Di depan layar aku merenung. Teringat di suatu kesempatan Bully pernah mempertanyakan ttg apa yg telah kucapai dlm rentang usiaku. Lantas apa lagi yg ingin kuraih pd sisa usiaku selanjutnya. Saat itu aku cuma menjawab, "going where the wind blows."
Dan Bully menulis, "Tu mah judul lagunya Mr. Big, Bu!"
And then... Cliiing! Bully ngilang.
Malam kemarin.
Kukira Bully akan ngilang lagi spt biasa, dg menyisakan tanya di kepalaku. Ternyata tidak! Ketika aku hendak sign out setelah hampir putus asa menunggu, pesan Bully muncul. Satu kalimat panjang dlm bahasa inggris. Napa juga pake inggris zi Bul?
Satu hal yg akhirnya membuka kesadaranku utk meninjau ulang peta yg telah kubuat. Apakah peta itu bisa menuntunku ke tempat yg ingin kutuju?
Bully, Bully, Bully... Siapa sebenarnya kamu? Kenapa hanya di ruang maya kita berjumpa? Bahkan dlm imajinasiku pun sosokmu sulit kuwujudkan!
Anyway... Bully...
So much thanks for you !!!
Bully adalah seorang teman dr dunia maya. Spt angin, dia datang dan pergi tanpa bisa kuduga keberadaannya. Dia muncul tiba2 dlm YMku.Meninggalkan pesan. Atau sesekali - jk beruntung - bercakap sebentar di ruang maya itu.
Dan aku cuma tahu,dia Bully. Nama yg aneh... Tanpa pernah kutahu identitasnya secara pasti. Pernah suatu kali aku tanyakan soal itu. Dia cuma menjawab, "Pentingkah?Andai Bully seorang perempuan,mungkin akan ditinggalkan. Cz biasanya,perempuan males ceting dg sesama perempuan.Atau jk Bully seorang laki2,Bully takut dijatuhi hati.Hwaahaha..hii..!"
Ih,narsis bener?
Akhirnya kuhentikan pencarian identitasnya.Biar.Daripada dia ke-GR-an mulu!Meski kadang aku kesulitan juga menangkap personalitasnya dlm ruang imajiku.
Bully bisa mjd siapa saja saat kuajak bicara. Teman,kala aku riuh bercanda. Adek,saat tiba2 aku jadi sangat sok tau. Kakak,saat aku butuh tempat merajuk. Bahkan org tua,saat aku butuh perlindungan ketika kepenatan hampir2 melenyapkan kesadaranku. Cuma satu yg tak mungkin. Ya,tentu saja,berperan sebagai suamiku. Hueheheh...
Kemarin malam kutemui Bully lagi setelah utk beberapa waktu tak kukunjungi ruang mayaku. Di YM dia telah meninggalkan pesan. Sepertinya dia pun sdg on line malam itu.
Percakapan kami mengalir bagai anak sungai. Kadang tenang, kadang juga riaknya
membuncah tiba2.
"Sibuk apa pe ga sempet OL?" Tulisnya.
"Bosen. Lagi pengen semedi bwt cari inspirasi," balasku.
"Bukannya inspirasi datang sendiri? Dia akan muncul justru ketika kamu ada di suatu tempat bersama org laen."
"Ga taulah. Mungkin lebih tepat dibilang introspeksi. Bukankah ulet hrs bertapa dulu sebelum jd kupu2?" (hahaha... Sok berfilsafat kan aku?)
"Terus? Mang kamu dah jd kupu?"
Hihi... Bingung aku. Sampai lama tak keluar jawaban. Mungkin Bully tau yg kupikirkan. Dia pun menulis lagi, "Coba pikirkan ttg integritas.Kira2 kamu dah punyakah?"
"Ha? Mangsuté?" Singkat tulisku.
Tapi Bully tak juga membalas. Ini bagian yg paling menyebalkan dr dirinya: menggantungkan pertanyaan.
Di depan layar aku merenung. Teringat di suatu kesempatan Bully pernah mempertanyakan ttg apa yg telah kucapai dlm rentang usiaku. Lantas apa lagi yg ingin kuraih pd sisa usiaku selanjutnya. Saat itu aku cuma menjawab, "going where the wind blows."
Dan Bully menulis, "Tu mah judul lagunya Mr. Big, Bu!"
And then... Cliiing! Bully ngilang.
Malam kemarin.
Kukira Bully akan ngilang lagi spt biasa, dg menyisakan tanya di kepalaku. Ternyata tidak! Ketika aku hendak sign out setelah hampir putus asa menunggu, pesan Bully muncul. Satu kalimat panjang dlm bahasa inggris. Napa juga pake inggris zi Bul?
Satu hal yg akhirnya membuka kesadaranku utk meninjau ulang peta yg telah kubuat. Apakah peta itu bisa menuntunku ke tempat yg ingin kutuju?
Bully, Bully, Bully... Siapa sebenarnya kamu? Kenapa hanya di ruang maya kita berjumpa? Bahkan dlm imajinasiku pun sosokmu sulit kuwujudkan!
Anyway... Bully...
So much thanks for you !!!
Rabu, 23 Juli 2008
NEVER ENDING LOVE SONG
I would fain that you call me 'love' still
To see you happy and in high spirit
is a great consolation for me
Love,
how illness stand as a barrier
between me and you
But i wish i was either
in your arms full of faith,
or
that a thunder bolt would srike me
Love,
you know
i will love you
forever !
To see you happy and in high spirit
is a great consolation for me
Love,
how illness stand as a barrier
between me and you
But i wish i was either
in your arms full of faith,
or
that a thunder bolt would srike me
Love,
you know
i will love you
forever !
Jumat, 30 Mei 2008
DUUUH... LAGI-LAGI KOMPOR GAS?
Lagi satu berita dengan tokoh yang sama: Sebuah Tabung Kompor Gas Bantuan Pemerintah Meledak dan Merenggut Nyawa Seorang Warga di Jawa Barat. Mengapa? Ya, mengapa?
Kuakui, memakai kompor gas memang jauh lebih irit dan bersih dibanding kompor mitan. Tapi nyatanya aku tak bisa menghalau rasa khawatir untuk mencoba memakainya. Ini alasanku...
Ketika baru mendapatkan jatah kompor beberapa bulan lalu, datang petugas lapangan dari rumah ke rumah untuk memberikan tutorial cara pakai, perawatan, dan emergency act sehubungan dengan kompor dan tabung 3 kiloan itu. Satu hal yang membuatku begitu ngotot nggak mau makai adalah ketika mas petugas menjelaskan tentang pentingnya mengganti regulator dan selang karena dua perangkat bawaan itu kurang aman: Regulator tidak otomatis dan selang bukan kwalitas standar karena tipis, tidak tahan api, serta gampang bolong jika digigit tikus. Haah?! Yang benar saja mas? Barang begini dibagi2? Apa judul setorinya duoong?? Rencana Pembunuhan terselubung?
Tapi aku buru2 stop mencecar komplain ke mas petugas. Mereka kan sekedar bertugas? Masih untung mereka mau terus terang shg aku mengantisipasinya dg nolak makai meski dapet jatah. Lagian, boro2 dah dikasi, masa mau macem2? Lantas kutanya si mas, berapa kira2 biaya penggantian itu. Si mas jawab, kurang lebih 200 ribu. Cep klakep. Kusenyumi mas petugas. 200 ribu? Duit dari hongkong?
Akhirnya, sampai hari ini, kompor subsidi itu masih perawan. Belum juga kujamah. Aku masih setia dg kompor mitan, meski untuk bisa menyalakannya aku hrs rela antri sepanjang siang.
Paranoid pada kompor itu kian bertambah ketika kemudian media massa memberitakan satu demi satu kompor itu meledak. Lepas dari kualitas kompor atau human error. Yg jelas: meleduk. Duk! Makin takut lagi ketika kebetulan kebakaran melalap rumah tetangga depan rumahku. Ya gara2 kompor gas lagi...
Entahlah... Kapan aku bisa pindah ke lain hati, eh, kompor. Asuransi pertamina untuk kecelakaan yg disebabkan oleh kompor itu, tak juga menggoyahkan hatiku. Apa gunanya klaim sekian juta jika harus celaka?? Hmm... No way lah yak!!
Kuakui, memakai kompor gas memang jauh lebih irit dan bersih dibanding kompor mitan. Tapi nyatanya aku tak bisa menghalau rasa khawatir untuk mencoba memakainya. Ini alasanku...
Ketika baru mendapatkan jatah kompor beberapa bulan lalu, datang petugas lapangan dari rumah ke rumah untuk memberikan tutorial cara pakai, perawatan, dan emergency act sehubungan dengan kompor dan tabung 3 kiloan itu. Satu hal yang membuatku begitu ngotot nggak mau makai adalah ketika mas petugas menjelaskan tentang pentingnya mengganti regulator dan selang karena dua perangkat bawaan itu kurang aman: Regulator tidak otomatis dan selang bukan kwalitas standar karena tipis, tidak tahan api, serta gampang bolong jika digigit tikus. Haah?! Yang benar saja mas? Barang begini dibagi2? Apa judul setorinya duoong?? Rencana Pembunuhan terselubung?
Tapi aku buru2 stop mencecar komplain ke mas petugas. Mereka kan sekedar bertugas? Masih untung mereka mau terus terang shg aku mengantisipasinya dg nolak makai meski dapet jatah. Lagian, boro2 dah dikasi, masa mau macem2? Lantas kutanya si mas, berapa kira2 biaya penggantian itu. Si mas jawab, kurang lebih 200 ribu. Cep klakep. Kusenyumi mas petugas. 200 ribu? Duit dari hongkong?
Akhirnya, sampai hari ini, kompor subsidi itu masih perawan. Belum juga kujamah. Aku masih setia dg kompor mitan, meski untuk bisa menyalakannya aku hrs rela antri sepanjang siang.
Paranoid pada kompor itu kian bertambah ketika kemudian media massa memberitakan satu demi satu kompor itu meledak. Lepas dari kualitas kompor atau human error. Yg jelas: meleduk. Duk! Makin takut lagi ketika kebetulan kebakaran melalap rumah tetangga depan rumahku. Ya gara2 kompor gas lagi...
Entahlah... Kapan aku bisa pindah ke lain hati, eh, kompor. Asuransi pertamina untuk kecelakaan yg disebabkan oleh kompor itu, tak juga menggoyahkan hatiku. Apa gunanya klaim sekian juta jika harus celaka?? Hmm... No way lah yak!!
Sabtu, 24 Mei 2008
PERTIWI, TRAGISNYA KISAHMU...
Sepertinya memang harus seperti ini. BBM, tidak bisa tidak, harus naik (lagi). Paling tidak sudah 2x dalam 3 tahun, pada periode SBY-Kala. Bukan apa2 kenapa aku mencatatnya. Cuma, baru pada kepemimpinan mereka aku mengenal istilah BLT, Bantuan Langsung (bikin) Tawuran. Wkakakikuk...Uhuk..Uhuk..Maaf, baru batuk.
Aku jadi trenyuh mengenang teman2 mahasiswa, LSM, juga elemen masyarakat lain yang begitu bersemangat dan optimis menggelar orasi. Beradu muka dg aparat yg kadang bikin sekarat. Mengenang mereka yg tak peduli peluh mengalir demi mewakili suara2 lemah kaum terjepit yg tak mungkin terdengar dari atas menara gading. Semata2 agar suara itu mampu menggerakkan sedikit rasa mereka, bahwa mlarat itu benar2 nggak nikmat!
Tapi memang nyatanya menghadapi orang2 lemah yg tak punya akses penting, jauh lebih mudah. Ya. Menggorok leher mereka tak repot2 amat. Ketimbang nego dg para pejabat agar gaji bulanannya rela dipotong 30% saja buat nutup sedikit bangkrutnya keuangan negara. Atau merayu pengusaha besar buat nambah sedikit lagi pajak progesifnya. Setidaknya, biarpun harga BBM melambung nggak tinggi2 amatlah jatuhnya,eh...terbangnya.
Tapi,sepertinya memang nggak bisa nggak: BBM tetep hrs naik. Demi kepentingan rakyat miskin juga katanya. jadi...tetaplah untuk tidak su'udzon. Semoga memang demikian.
Berbahagialah orang2 yg terpilih mendapatkan BLT. Anggap saja sbg gaji bulanan atas jasa2 kita menjadi penyelamat kas negara. Sebab, jer basuki mawa bea. Kemenangan selalu membutuhkan orang2 yg terkalahkan. Tapi, sungguh, jangan anggap ini sebagai kekalahan. Anggaplah ini sbg kesempatan membuktikan bakti pd pertiwi! Sebab kita lebih berani mempertaruhkan nyawa dg rela diet super ketat di segala bidang, dibandingkan mereka yg sudah terlanjur kekenyangan di atas sana. Sungguh, terimalah dg lapang dada!
...
wahai!
apa yang kau rasa
saat hari kemarin kau lihat rakyat diadu dengan aparat?
apa yang kau rasa
saat hari ini kau lihat wong mlarat diadu dengan wong mlarat?
Wahai,
nurani...
Aku jadi trenyuh mengenang teman2 mahasiswa, LSM, juga elemen masyarakat lain yang begitu bersemangat dan optimis menggelar orasi. Beradu muka dg aparat yg kadang bikin sekarat. Mengenang mereka yg tak peduli peluh mengalir demi mewakili suara2 lemah kaum terjepit yg tak mungkin terdengar dari atas menara gading. Semata2 agar suara itu mampu menggerakkan sedikit rasa mereka, bahwa mlarat itu benar2 nggak nikmat!
Tapi memang nyatanya menghadapi orang2 lemah yg tak punya akses penting, jauh lebih mudah. Ya. Menggorok leher mereka tak repot2 amat. Ketimbang nego dg para pejabat agar gaji bulanannya rela dipotong 30% saja buat nutup sedikit bangkrutnya keuangan negara. Atau merayu pengusaha besar buat nambah sedikit lagi pajak progesifnya. Setidaknya, biarpun harga BBM melambung nggak tinggi2 amatlah jatuhnya,eh...terbangnya.
Tapi,sepertinya memang nggak bisa nggak: BBM tetep hrs naik. Demi kepentingan rakyat miskin juga katanya. jadi...tetaplah untuk tidak su'udzon. Semoga memang demikian.
Berbahagialah orang2 yg terpilih mendapatkan BLT. Anggap saja sbg gaji bulanan atas jasa2 kita menjadi penyelamat kas negara. Sebab, jer basuki mawa bea. Kemenangan selalu membutuhkan orang2 yg terkalahkan. Tapi, sungguh, jangan anggap ini sebagai kekalahan. Anggaplah ini sbg kesempatan membuktikan bakti pd pertiwi! Sebab kita lebih berani mempertaruhkan nyawa dg rela diet super ketat di segala bidang, dibandingkan mereka yg sudah terlanjur kekenyangan di atas sana. Sungguh, terimalah dg lapang dada!
...
wahai!
apa yang kau rasa
saat hari kemarin kau lihat rakyat diadu dengan aparat?
apa yang kau rasa
saat hari ini kau lihat wong mlarat diadu dengan wong mlarat?
Wahai,
nurani...
Kamis, 22 Mei 2008
MENYAKITI VS MEMBELA DIRI

Suatu hari aku dipanggil guru kelas Alf,sulungku. Menurut beliau, Alf habis memukul teman laki2 sekelasnya hingga jatuh dan menangis (?!)
Ibu guru ganti mengintrogasiku ketika aku jemput Alf. Terpaksa aku ngaku bhw Alf memang kuajari sedikit 'ilmu' beladiri yg sempat kudapat saat sekolah. Maksudku, ya, buat olahraga. Sebab kulihat anak itu punya kelebihan energi yg hrs disalurkan. Atau bila suatu saat dia kepepet bahaya, 'ilmu' itu bisa dipakainya.
Tapi ternyata, Alf belum bisa memahami antara membela diri dan menyakiti. Belum bisa membedakan antara nakalnya teman sekelas dan bahaya yg sesungguhnya. Akhirnya, ya, begitulah... Jadi, siapa yg salah? Ya, emaknyalaaah... Kata ibu guru. Harusnya anak seumur dia jangan diajari kekerasan. (hah?!)
Aku cuma garuk2 kepala yg memang sdg gatal. Kupikir,tak perlu berargumen dulu. Disamping membahayakan posisi Alf, di luar dia sdh 'mbethathut' minta pulang. Mungkin lapar karena tiap pagi cuma sarapan segelas susu saja.
Di luar... kucubit pipi bidadariku itu dan kuacak rambutnya. Meski dalam hati aku jengkel entah pd siapa, aku toh tak bisa menimpakan kesalahan penuh padanya. Mungkin benar kata bu guru, jangan ajarkan kekerasan. Atau mungkin ga gitu2 amat kaleee...He.. Sebab aku melarang Alf menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Mungkin dia masih butuh penegasan saja. Bahwa menghadapi kekerasan dengan kekerasan hanya akan menimbulkan kekerasan yg lain. Ga ada matinya...!!
Alf tak banyak bicara di sepanjang jalan pulang. Tak seperti biasanya. Aku tak tahu, lapar...Atau takutkah ia. Baru setiba di rumah, dia membela diri sebelum sempat kuintrogasi. Aku cuma mengangguk2 sebelum dia menuturkan jalan cerita.
"Sudah?" Tanyaku. "Jangan diulang, ya?"
Alf mengangguk. "Ibu marah?" Tanyanya.
Kujawab dengan nyengir kuda. Dan seperti biasa, Alf merajuk dan memukuli lenganku.
Cha, bungsuku, yg tadinya tak menghiraukan kedatangan kami, akhirnya memperhatikan juga. Memberi semangat aku untuk menggelitik kakaknya.
Hhh... anak-anak... Senyum mereka membuatku selalu punya alasan untuk terus menapaki hari..
When I see you smile
I can face the world...
Ibu guru ganti mengintrogasiku ketika aku jemput Alf. Terpaksa aku ngaku bhw Alf memang kuajari sedikit 'ilmu' beladiri yg sempat kudapat saat sekolah. Maksudku, ya, buat olahraga. Sebab kulihat anak itu punya kelebihan energi yg hrs disalurkan. Atau bila suatu saat dia kepepet bahaya, 'ilmu' itu bisa dipakainya.
Tapi ternyata, Alf belum bisa memahami antara membela diri dan menyakiti. Belum bisa membedakan antara nakalnya teman sekelas dan bahaya yg sesungguhnya. Akhirnya, ya, begitulah... Jadi, siapa yg salah? Ya, emaknyalaaah... Kata ibu guru. Harusnya anak seumur dia jangan diajari kekerasan. (hah?!)
Aku cuma garuk2 kepala yg memang sdg gatal. Kupikir,tak perlu berargumen dulu. Disamping membahayakan posisi Alf, di luar dia sdh 'mbethathut' minta pulang. Mungkin lapar karena tiap pagi cuma sarapan segelas susu saja.
Di luar... kucubit pipi bidadariku itu dan kuacak rambutnya. Meski dalam hati aku jengkel entah pd siapa, aku toh tak bisa menimpakan kesalahan penuh padanya. Mungkin benar kata bu guru, jangan ajarkan kekerasan. Atau mungkin ga gitu2 amat kaleee...He.. Sebab aku melarang Alf menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Mungkin dia masih butuh penegasan saja. Bahwa menghadapi kekerasan dengan kekerasan hanya akan menimbulkan kekerasan yg lain. Ga ada matinya...!!
Alf tak banyak bicara di sepanjang jalan pulang. Tak seperti biasanya. Aku tak tahu, lapar...Atau takutkah ia. Baru setiba di rumah, dia membela diri sebelum sempat kuintrogasi. Aku cuma mengangguk2 sebelum dia menuturkan jalan cerita.
"Sudah?" Tanyaku. "Jangan diulang, ya?"
Alf mengangguk. "Ibu marah?" Tanyanya.
Kujawab dengan nyengir kuda. Dan seperti biasa, Alf merajuk dan memukuli lenganku.
Cha, bungsuku, yg tadinya tak menghiraukan kedatangan kami, akhirnya memperhatikan juga. Memberi semangat aku untuk menggelitik kakaknya.
Hhh... anak-anak... Senyum mereka membuatku selalu punya alasan untuk terus menapaki hari..
When I see you smile
I can face the world...
Jumat, 18 April 2008
Heart Broken Love Song
Telah lama kutulis sebuah puisi untukmu
tentang kasih yang tak berbatas
tentang rentang cinta yang tak berjarak
tempat pun waktu
Jangan lagi pertanyakan tentang
apa yang patut kucinta darimu
karena cinta bukanlah suatu
kepatutan ataupun kelayakan
Ia adalah kerelaan hati dan
kebesaran jiwa untuk
menerima dan memahami satu sama lain
tentang kasih yang tak berbatas
tentang rentang cinta yang tak berjarak
tempat pun waktu
Jangan lagi pertanyakan tentang
apa yang patut kucinta darimu
karena cinta bukanlah suatu
kepatutan ataupun kelayakan
Ia adalah kerelaan hati dan
kebesaran jiwa untuk
menerima dan memahami satu sama lain
Rabu, 26 Maret 2008
once upon the time...
dear friends,
maybe impossible is nothing.
but sometimes...
you have to believe, that impossible can be something...
couse, there's a hero lies in you!!!
maybe impossible is nothing.
but sometimes...
you have to believe, that impossible can be something...
couse, there's a hero lies in you!!!
Langganan:
Postingan (Atom)
